Laman

Senin, 25 Juli 2011

Dua Puluh Dollar


Seorang pembicara terkenal memulai seminarnya dengan mengangkat uang senilai 20 Dollar ke hadapan seluruh peserta yang hadir. Sambil memegang uang 20 Dollar keatas kemudian ia bertanya, “Siapakah diantara Anda yang menginginkan uang 20 Dollar ini?”
Terlihat tangan-tangan peserta mulai terangkat tanda setuju. Kemudian dia melanjutkan, "Saya akan memberikan 20 Dollar ini sampai salah satu dari Anda datang kepada saya, tapi pertama-tama, biarkan saya melakukan hal ini." Dia mulai meremas uang 20 Dollar itu sampai kusut. Kemudian dia bertanya, "Siapa yang masih menginginkannya?" Tangan-tangan peserta seminar masih tetap terangkat keatas.
"Yah…," jawabnya, "Bagaimana jika saya melakukan ini?" Dan ia menjatuhkannya di lantai dan mulai menggilingnya dengan sepatu. Lalu dia kembali mengangkat uang itu, “Sekarang semua kusut dan kotor.”
"Sekarang siapa yang masih menginginkannya?" Kemudian semua tangan masih tetap terangkat keatas.
Lalu pembicara ini menambahkan, “Anda semua menginginkan uang 20 Dollar tersebut karena biarpun uang ini kotor dan kusut namun tidak mengalami penurunan nilai.Nilainya tetap 20 Dollar bukan...?”

Pesan :
Banyak kali dalam hidup, kita terjatuh, kusut, dan tergilas. Tetapi tak peduli apa yang telah terjadi atau apa yang akan terjadi dalam hidup Anda, Anda tidak akan pernah kehilangan nilai Anda di mata Tuhan. Kotor atau bersih, kusut atau halus, Anda masih tetap diri Anda, dan Anda tetap memiliki nilai yang sama dimata Tuhan. 
Ia  menilai bukan pada apa yang kita lakukan ataupun siapa diri kita, tetapi oleh karena Anda sangat berharga di mata-Nya.

 Anonim

Segelas Susu


Suatu hari, ada seorang pemuda miskin berjalan berkeliling dari rumah ke rumah menjual barang dagangan untuk membiayai sekolahnya. Setelah berkeliling ke beberapa tempat, ia menjadi sangat lapar dan kehausan tetapi sayangnya ia belum memiliki cukup uang untuk membeli makanan, maka dia memutuskan untuk meminta sedikit makanan penyangga perut di rumah berikutnya. Ketika dia sampai di pintu rumah berikut ternyata dia kehilangan keberaniannya ketika seorang wanita muda membuka pintu rumah kepadanya. Dengan perasaan malu dia menahan rasa laparnya dan hanya meminta segelas air saja untuk minum.

Wanita muda tersebut segera mengetahui dari gelagatnya bahwa pemuda yang sedang membawa barang-barang jualan ini terlihat lapar. Wanita muda itu lalu membawakan untuknya susu dalam gelas penuh. Dia meminumnya perlahan, kemudian bertanya, 
"Maaf, berapa saya berhutang pada Anda?"

"Anda tidak berhutang apapun kepada saya," jawab wanita muda tersebut. "Ibu kami telah mengajarkan untuk tidak menerima bayaran bagi kebaikan orang lain."
Pemuda miskin ini lalu mengucapkan terima kasih pada wanita muda itu atas segelas susu yang diberikannya.

Bertahun-tahun kemudian diketahui bahwa wanita muda tersebut mengalami sakit keras dan dalam kondisi kritis. Para dokter setempat bingung. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, di mana mereka memanggil seorang dokter spesialis untuk mempelajari penyakit langka yang menyerang wanita muda itu. Dr Howard Kelly dipanggil untuk berkonsultasi. Ketika ia mendengar nama pasien yang datang dari kota asalnya, tiba-tiba seberkas cahaya aneh memenuhi matanya. Serentak ia bangkit mengenakan seragam dokter dan pergi menuruni aula rumah sakit menuju kamar pasien yang mengalami sakit aneh itu. Dia langsung mengenali si pasien yang terbaring sakit diatas tempat tidur dan memutuskan untuk melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan hidupnya. Sejak hari itu ia memberikan perhatian khusus untuk kasus ini.

Setelah melalui perjuangan panjang, pertempuran melawan penyakit itu dimenangkan oleh Dr. Kelly. Ia lalu meminta bagian administrasi Rumah Sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya. Kemudian ia menuliskan sesuatu di sudut kertas tagihan itu sebelum dikirim kepada pasien.

Ketika pasien wanita itu menerima tagihan biaya perawatan Rumah Sakit ia takut untuk membukanya, karena ia yakin bahkan ia harus menghabiskan sisa hidupnya untuk membayar semua tagihan itu. Namun dia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya pada sudut nota tagihan.
Sebuah kalimat yang membuatnya sangat terharu penuh rasa syukur.
Disudut nota tagihan itu tertulis...

"Telah dibayar penuh dengan satu gelas susu."

Ttd


Dr Howard Kelly

Air mata sukacita membanjiri matanya saat itu dan ia mulai berdoa:
"Terima kasih Tuhan, karena kasih-Mu telah tercurah melalui hati dan tangan manusia"


"Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."
(Lukas 6:38)

Jadilah Yang Terbaik Dari Dirimu



Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau

Kalau engkau tak sanggup menjadi belukar

Jadilah rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul di pinggir jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil, tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

Tentu harus ada awak kapalnya..

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu..

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri



Douglas Malloch

Minggu, 24 Juli 2011

Rahasia Tersimpan

Dalam sebuah pertemuan penciptaan Sang Pencipta mengumpulkan semua ciptaannya kecuali manusia dan Ia bersabda, 

"Aku ingin menyembunyikan sesuatu yang paling berharga dari manusia yang akan membawa mereka mencapai puncak kejayaan mereka sampai mereka benar-benar siap untuk menerimanya."

Kemudian Sang Pencipta memberikan kesempatan pada semua yang hadir untuk memberikan pendapat mereka,

Lalu Elang berkata, "Berikan padaku, aku akan membawanya ke bulan." 

Sang Pencipta berkata, "Tidak suatu hari nanti mereka akan pergi ke sana dan menemukannya."

Kemudian Ikan Salmon berkata, "Berikan padaku, aku akan menguburnya di dasar laut."
"Tidak mereka akan pergi ke sana juga," jawab Sang Pencipta.

Kemudian Kerbau berkata, "Aku akan menguburkannya di dasar bumi."

"Mereka akan menggali ke dalam kulit bumi dan menemukannya bahkan di dalam sana," jawab Sang Pencipta.

Setelah mendengarkan semua pendapat, seorang nenek bijaksana yang tinggal di negeri manusia dan ikut diundang dalam pertemuan itu berkata dengan mata rohaninya, 

"Taruhlah itu didalam diri mereka."

Dan Sang Pencipta menjawab, "Hal ini yang akan kulakukan."


"Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya."
(Amsal 20:5)


Cerita Rakyat Indian Sioux

Allah Mengenalmu



 Ketika Anda lelah dan putus asa dari segala usaha Anda yang sia-sia.
Allah tahu seberapa keras Anda telah mencoba.

Bila Anda telah menangis begitu lama dalam penderitaan.
Allah menghitung air matamu.

Ketika Anda bingung dan tak tahu harus kemana.
 Allah memiliki jawabannya.

Ketika seseorang meninggalkan Anda dan tak satupun yang mendengarkan Anda.
Allah selalu setia disamping Anda.

Ketika tak seorangpun menghiraukan Anda karena Anda kecil.
Allah tetap memandangmu sebagai permata yang mulia.

Jika tiba-tiba Anda menemukan secercah harapan.
 Allah sedang berbisik kepada Anda.

Ketika segalanya berjalan dengan baik dan Anda memiliki hati yang melimpah untuk berterima kasih.
Allah sedang memberkati Anda.

Ketika sesuatu terjadi menyenangkan Anda dan Anda dipenuhi dengan rasa kagum.
 Allah sedang tersenyum pada Anda.

Ingatlah bahwa di manapun Anda berada atau apa pun yang Anda rasakan.
Allah mengetahuinya dan Ia mengenal seluk beluk kehidupanmu.



Anonim

Kamis, 21 Juli 2011

Antara Pasir dan Batu


Adalah sebuah cerita yang mengisahkan dua orang sahabat setia berjalan melintasi gurun pasir. Dalam perjalanan mereka berdua kemudian bertengkar dan salah seorang dari keduanya menampar pipi sahabatnya.
Salah seorang dari mereka yang ditampar tetapi tak mengatakan apa pun juga, lalu menuliskan beberapa kata di atas pasir,  

"Hari ini teman terbaik saya menampar saya di pipi..."

Mereka berdua terus berjalan sampai mereka menemukan sebuah oasis ( sumber air di padang pasir), di mana mereka memutuskan untuk mandi. Salah seorang yang telah ditampar tadi lalu terjebak dalam lumpur dan mulai tenggelam, tetapi temannya yang telah menampar pipinya lalu turun menyelamatkan sahabatnya yang hampir tenggelam. Setelah ia selamat dan pulih, ia kembali menulis, namun kali ini ia menulis dengan cara memahat tulisannya diatas batu,

“Hari ini teman terbaik saya menyelamatkan nyawa saya…”

Teman yang telah menampar dan menyelamatkan sahabatnya lalu bertanya,
"Setelah aku menyakitimu, kau menulis di pasir dan sekarang, kau menuliskan di atas batu, mengapa?" Teman yang lain menjawab,  

"Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menuliskannya di atas pasir di mana angin pengampunan dapat menghapusnya pergi. Tetapi, ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik bagi kita, kita harus mengukirnya di atas batu di mana tidak ada angin yang bisa menghapusnya." 


Anonim

Yang Lembut dan Yang Keras


Pada suatu kesempatan sebelum Chang Cong wafat, Lao Tzu datang mengunjungi gurunya itu yang sedang mengalami sakit keras. Ketika ia berjumpa dengan sang guru maka terjadilah percakapan diantara keduanya.

“Guru, apakah Guru mempunyai kata-kata bijak terakhir untukku?” kata Lao Tzu pada Chang Cong.
“Sekalipun kamu tidak bertanya, aku pasti akan mengatakan sesuatu padamu,” jawab Chang Cong.
“Apa itu?”
“Kamu harus turun dari keretamu bila kamu melewati tanah kelahiranmu.”

“Ya, Guru. Ini berarti orang tidak boleh melupakan asalnya.”
“Bila kamu melihat pohon yang tinggi, kamu harus maju dan mengaguminya.”
“Ya, Guru. Ini berarti saya harus menghormati orang yang lebih tua.”
“Sekarang, lihat dan katakan apakah kamu dapat melihat lidahku?”
kata Chang Cong.

“Ya.”
“Apakah kamu melihat gigiku?”
“Tidak. Tak ada gigi yang tersisa.”
“Kamu tahu kenapa?”
tanya Chang Cong.
“Aku rasa...,”
kata Lao Tzu setelah berpikir sejenak,
“Lidah tetap ada karena lunak. Gigi rontok karena mereka keras. benar tidak?”
“Ya, anakku,”
Chang Cong berkata sambil mengangguk. “Itulah kebijaksanaan di dunia. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diajarkan kepadamu.”

Di kemudian hari Lao Tzu mengatakan: “Tidak ada sesuatu pun di dunia selunak air. Namun tidak ada yang mengunggulinya dalam mengalahkan yang keras. Yang lunak mengalahkan yang keras dan yang lembut mengalahkan yang kuat. Setiap orang tahu itu, tapi sedikit saja yang mempraktekannya.”




"Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi."
(Matius 5:5)



Kebijaksanaan China

Senin, 18 Juli 2011

Kisah 3 Batang Pohon


Tiga batang pohon tinggal di dalam hutan. Suatu hari, ketiganya saling bercerita tentang harapan dan impian mereka.

Pohon pertama memulai percakapannya, “Kelak aku ingin menjadi peti harta karun. Aku akan bermandikan emas, perak dan berbagai batu permata yang mahal harganya, dan semua orang akan mengagumi keindahannya”.

Kemudian pohon kedua berkata, “Suatu hari kelak aku akan menjadi sebuah kapal yang besar. Aku akan mengangkut raja-raja dan berlayar ke ujung dunia. Aku akan menjadi kapal yang kuat dan setiap orang akan merasa aman berada dekat denganku.”

Lalu pohon ketiga menyampaikan impiannya, “Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang tertinggi di hutan di puncak bukit. Orang-orang akan memandangku dan berpikir, betapa aku begitu dekat untuk menggapai surga dan Tuhan. Aku akan menjadi pohon terbesar sepanjang masa dan orang-orang akan mengingatku”.

Bertahun-tahun berlalu, sekelompok penebang pohon datang dan menebang ketiga pohon itu. Pohon pertama dibawa mereka ke tukang kayu. Ia sangat senang sebab ia tahu bahwa ia akan dibuat menjadi peti harta karun.
Tetapi…doanya tidak menjadi kenyataan, karena tukang kayu hanya membuatnya menjadi tempat menaruh makanan ternak dan ia hanya diletakkan di kandang dan setiap hari diisi dengan jerami.

Pohon kedua lalu dibawa ke galangan kapal. Ia berpikir bahwa doanya menjadi kenyataan.
Tetapi… ia dipotong-potong dan dibuat menjadi sebuah perahu nelayan yang sangat kecil. Impiannya menjadi kapal besar untuk mengangkut raja-raja pupus sudah.

Pohon ketiga dipotong menjadi potongan-potongan kayu besar, dan dibiarkan tinggal  dalam gudang yang gelap.
Tahun demi tahun berganti…dan ketiga pohon itu telah melupakan impian mereka.

Namun di suatu hari terjadilah sesuatu…

Sepasang suami istri yang kelelahan ditengah malam yang dingin tiba di kandang. Sang istri yang sedang mengandung itu lalu melahirkan dalam kandang tersebut dan meletakkan bayinya di kotak tempat makanan ternak yang dibuat dari pohon pertama. Dan kemudian orang-orang datang dan menyembah bayi itu.
Akhirnya pohon pertama sadar bahwa di dalamnya telah diletakkan Harta Terbesar Sepanjang Masa.


Bertahun-tahun kemudian…
Sekelompok laki-laki naik ke atas perahu nelayan yang dibuat dari pohon kedua.
Di tengah danau, badai besar datang dan pohon kedua berpikir, bahwa ia tidak cukup kuat untuk melindungi orang-orang di dalamnya.

Tetapi salah seorang laki-laki itu berdiri dan berkata kepada badai itu, “Tenanglah!!”
Dan badai itupun berhenti. Ketika itu ia baru menyadari bahwa perahunya telah membawa Raja Segala Raja.

Beberapa waktu berikutnya, seseorang datang dan mengambil pohon ketiga.
Ia dipikul sepanjang jalan sementara orang-orang mengejek lelaki yang memikulnya.

Pohon ketiga yang sudah menjadi kayu balok besar itu terus berada di atas punggung seorang lelaki yang penuh darah. Ketika sampai diatas sebuah bukit, ia dipakukan bersama dengan seorang laki-laki yang berlumuran darah itu, dan terdengarlah suara “Ya Bapa....Kedalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku..”

Pohon ketiga lalu menyadari bahwa ia demikian dekat dengan Tuhan,
karena YESUSlah yang disalibkan padanya…

Ketiga pohon tersebut mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi tidak dengan cara yang seperti mereka bayangkan.
Tuhan mengenal harapanmu, dan Dia mengetahui kerinduan hatimu, dan Dia tahu untuk memberikan yang terbaik bagimu.

Jadilah orang yang berguna tidak hanya untuk kepentingan dan kebesaran diri kita semata, tetapi lebih daripada itu jadilah orang yang berguna bagi Kerajaan Allah dan memuliakan nama-Nya.


Anonim

Melihat Dengan Mata Iman

Florence May Chadwick seorang perenang kawakan Amerika pada tahun 1950 berhasil memecahkan rekor menyeberangi Selat Inggris secara bolak balik dalam catatan waktu 13 jam dan 20 menit. Berikutnya, pada tahun 1952 ia mencoba untuk menaklukkan rekor baru dengan berenang sejauh 26 Mil diantara Pulau Catalina dan garis pantai California. Beberapa persiapan fisik dan mental telah dipersiapkan, termasuk pada hari itu beberapa pengendara speed ikut disiapkan mengawal Chadwick dari belakang kalau-kalau ia mengalami cedera.

Ketika ia berenang dalam waktu sekitar 15 jam kabut tebal menyelimuti pandangan matanya dan ia mulai meragukan pencapaiannya hari itu. Tetapi ia tetap mencoba berenang hingga 1 jam kedepan sebelum akhirnya ia menyerah dan meminta untuk ditarik keluar karena tidak dapat melihat garis pantai yang terus diselimuti kabut tebal sehingga menghalangi jarak pandangnya. Saat ia berhenti dan duduk di sebuah perahu ia mengetahui bahwa ia berhenti berenang hanya 1 mil jauhnya dari tujuan akhir.

Dua bulan kemudian, Florence Chadwick mencobanya lagi. Ketika ia berenang, dalam jarak yang sama kabut tebal yang sama pula kembali menutupi jarak pandangnya. Namun kali ini berbeda. Ia menembus kabut tebal yang menghalanginya itu dan berhasil mencapai tujuan. Dalam sebuah sesi wawancara ia mengungkapkan rahasianya menaklukkan kabut tebal yang menghalanginya itu,dan Chadwick menyebutkan bahwa ia telah melihat garis tujuan akhir yang hendak ia capai dalam benaknya sementara ia berenang. Dia tahu bahwa disana, di balik kabut ada daratan dan akhirnya kali ini dia berhasil.

Florence Chadwick berhasil memecahkan rekor baru dalam sejarah renang saat itu dengan menjadi perenang wanita pertama yang berhasil berenang menyeberangi Selat Catalina, melampaui rekor yang dibuat oleh perenang pria lainnya.

Renungan :
Dalam melintasi lautan kehidupan, “kabut tebal” yang serupa juga tidak akan menghalangi pandangan mata kita untuk mencapai tujuan akhir yang hendak kita capai, jika kita telah melihat semuanya itu dengan jelas melalui mata iman.




"Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya , maka hal itu akan diberikan kepadamu. "
(Markus 11:24)




Mata Air Yang Segar

The Story of Andoy : Kisah Nyata dari Filipina

Dibawah ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi di Milaor Camarine Sur,Filipina.

Ada seorang bocah laki-laki berusia sekitar 9 tahun yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah yang berbatu dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah laki-laki ini mampir sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, yang dianggapnya sebagai sahabatnya.
Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

"Bagaimana kabarmu, Andoy? Apakah kamu akan ke Sekolah?"

"Ya, Pak Pendeta!" balas Andoy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andoy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyebrang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."

"Terima kasih, Pak Pendeta."

"Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?"

"Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku."

Dan Pendeta tersebut meninggalkan Andoy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tetapi Pendeta tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andoy kepada Bapa di Surga.

"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanya kue ini.
Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar.”

”Lihat ini sepatuku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa..paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi. Tolong Tuhan.”


”Oh, ya..Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.”
” Tuhan, Engkau maukah Engkau melihat lukaku?? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan....??? Tolong jangan marahi ibuku, ya..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku.”

”Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku??” “Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.”

”Hey...ulang tahun-Mu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira?? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu.
Aku berharap Engkau menyukainya. Ooohh..aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andoy segera berdiri dan memanggil Pendeta .

"Pak Pendeta..Pak Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!"

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andoy tidak pernah absen sekalipun.

Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Ketika mereka sedang berdoa, Andoypun tiba di Gereja tersebut usai menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan..Aku.."

"Kurang ajar kamu, bocah!!!tidakkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa??Keluar, kamu!!!!"

Andoy begitu terkejut,"Dimana Pak Pendeta Agaton..??Seharusnya dia membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahun-Nya, akupun punya hadiah untuk-Nya.."

Ketika Andoy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.

"Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!"

Andoy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Lalu dia menyeberang, tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang - disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andoy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar.dan Andyopun tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berkulit putih dan berkemeja putih dengan wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata datang dan memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,"Maaf tuan..apakah anda keluarga dari bocah yang malang ini? Apakah anda mengenalnya?"

Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam berkata,"Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang dikatakan.

Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang ada disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..

Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan.

Diapun berkunjung ke rumah Andoy untuk memastikan pria berkulit putih misterius  tersebut. Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua Andy.

"Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?"

"Seorang pria berkemeja putih yang membawanya kemari." Ucap ibu Andoy terisak.

"Apa katanya?"

Ayah Andy berkata,"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andoy, sepertinya Dia begitu mengenal Andoy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andoy dari wajahnya dan memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia membisikkan sesuatu."

"Apa yang dikatakan?"

"Dia berkata kepada putraku.." Ujar sang Ayah. "Terima kasih buat kadonya.
Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku." Dan sang ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu...aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Pak Pendeta, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. Aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang.
Tapi tolong Pak Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal."

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik,"Dia tidak berbicara kepada siapa-siapa... kecuali dengan Tuhan."


Anonim
Sumber : Milist

Kapak Yang Hilang

Suatu hari seorang pria membelah kayu bakar untuk dibawanya pulang. Setelah semua kayu terkumpul, ia lalu berangkat pulang memikul kayu-kayu bakarnya ke rumah. Sesampainya di rumah ia merasa telah kehilangan kapaknya. Dia lalu mencurgai bahwa kapak tersebut telah dicuri oleh anak tetangganya, maka dia selalu mengamat-amati gerak-gerik si anak dengan cermat setiap hari.  Anak itu berjalan seperti pencuri, kelihatan seperti pencuri, dan berbicara seperti layaknya pencuri.   

Beberapa hari kemudian, orang itu menemukan kapaknya yang ternyata tertinggal pada waktu dia menebang pohon.

Keesokan harinya ketika dia melihat anak itu kembali; anak itu berbicara, berjalan dan berpenampilan seperti anak-anak yang lain, dan dia tidak kelihatan seperti pencuri lagi.


Pesan moral :
Tidakkah terkadang kita bertindak seperti pria yang kehilangan kapaknya?



"Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu : Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu."
(Matius 7:3-4)



Anonim

Hati Seorang Ayah


Suatu ketika sebuah keluarga kecil berkumpul di malam hari yang gelap berteman pelita yang dinyalakan sang ayah diatas dinding dengan pinggang yang mulai membungkuk karena mengangkat beban sepanjang hari, mereka bercengkrama sebelum pergi tidur. Seorang anak gadisnya yang masih kecil lantas bertanya pada sang ayah :

“Ayah mengapa pinggangmu mulai bungkuk dan keningmu mengkerut?”

“Hhmm..itu karena aku adalah seorang ayah,” jawab ayahnya.

“Aku tidak mengerti,” kata anak kecilnya menggelengkan kepala.

Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anaknya itu, sembari menepuk nepuk bahunya, kemudian ayahnya berkata :

“Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki.”

Anak kecilnya itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa. Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban pertanyaannya ketika ia masih kecil.

“Saat Kuciptakan laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi.“

“Kuciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.“

“Kuberikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya.“

“Kuberikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”


“Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap
kali menyerangnya.”

“Kuberikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap.Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan mengasihi sesama saudara.”

“Kuberikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk menyadarkan, bahwa istri yang baik adalah istri yang setia terhadap suaminya, istri yang baik adalah istri yang senantiasa menemani dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi.”

“Ketika ia mulai tua, Kuberikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam kebahagiaan dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.“

Anak itu lalu terbangun dan segera  berlutut dan berdoa hingga pagi menjelang. Dengan wajah tertunduk ia menghampiri kamar ayahnya yang sudah menua namun tetap bekerja, dan ketika ayahnya berdiri anak wanita itu memeluk dan mencium ayahnya dengan berlinang air mata lalu berkata :  

”Ayah, aku mendengar dan merasakan semua bebanmu ayah...”


Refleksi :
Jika ada jasa manusia yang ingin engkau bayar selagi engkau mampu, hargailah jasa seorang ayah.



"Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia." 
(Amsal 103:13)


 Anonim