Laman

Minggu, 24 Juli 2011

Allah Mengenalmu



 Ketika Anda lelah dan putus asa dari segala usaha Anda yang sia-sia.
Allah tahu seberapa keras Anda telah mencoba.

Bila Anda telah menangis begitu lama dalam penderitaan.
Allah menghitung air matamu.

Ketika Anda bingung dan tak tahu harus kemana.
 Allah memiliki jawabannya.

Ketika seseorang meninggalkan Anda dan tak satupun yang mendengarkan Anda.
Allah selalu setia disamping Anda.

Ketika tak seorangpun menghiraukan Anda karena Anda kecil.
Allah tetap memandangmu sebagai permata yang mulia.

Jika tiba-tiba Anda menemukan secercah harapan.
 Allah sedang berbisik kepada Anda.

Ketika segalanya berjalan dengan baik dan Anda memiliki hati yang melimpah untuk berterima kasih.
Allah sedang memberkati Anda.

Ketika sesuatu terjadi menyenangkan Anda dan Anda dipenuhi dengan rasa kagum.
 Allah sedang tersenyum pada Anda.

Ingatlah bahwa di manapun Anda berada atau apa pun yang Anda rasakan.
Allah mengetahuinya dan Ia mengenal seluk beluk kehidupanmu.



Anonim

Kamis, 21 Juli 2011

Antara Pasir dan Batu


Adalah sebuah cerita yang mengisahkan dua orang sahabat setia berjalan melintasi gurun pasir. Dalam perjalanan mereka berdua kemudian bertengkar dan salah seorang dari keduanya menampar pipi sahabatnya.
Salah seorang dari mereka yang ditampar tetapi tak mengatakan apa pun juga, lalu menuliskan beberapa kata di atas pasir,  

"Hari ini teman terbaik saya menampar saya di pipi..."

Mereka berdua terus berjalan sampai mereka menemukan sebuah oasis ( sumber air di padang pasir), di mana mereka memutuskan untuk mandi. Salah seorang yang telah ditampar tadi lalu terjebak dalam lumpur dan mulai tenggelam, tetapi temannya yang telah menampar pipinya lalu turun menyelamatkan sahabatnya yang hampir tenggelam. Setelah ia selamat dan pulih, ia kembali menulis, namun kali ini ia menulis dengan cara memahat tulisannya diatas batu,

“Hari ini teman terbaik saya menyelamatkan nyawa saya…”

Teman yang telah menampar dan menyelamatkan sahabatnya lalu bertanya,
"Setelah aku menyakitimu, kau menulis di pasir dan sekarang, kau menuliskan di atas batu, mengapa?" Teman yang lain menjawab,  

"Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menuliskannya di atas pasir di mana angin pengampunan dapat menghapusnya pergi. Tetapi, ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik bagi kita, kita harus mengukirnya di atas batu di mana tidak ada angin yang bisa menghapusnya." 


Anonim

Yang Lembut dan Yang Keras


Pada suatu kesempatan sebelum Chang Cong wafat, Lao Tzu datang mengunjungi gurunya itu yang sedang mengalami sakit keras. Ketika ia berjumpa dengan sang guru maka terjadilah percakapan diantara keduanya.

“Guru, apakah Guru mempunyai kata-kata bijak terakhir untukku?” kata Lao Tzu pada Chang Cong.
“Sekalipun kamu tidak bertanya, aku pasti akan mengatakan sesuatu padamu,” jawab Chang Cong.
“Apa itu?”
“Kamu harus turun dari keretamu bila kamu melewati tanah kelahiranmu.”

“Ya, Guru. Ini berarti orang tidak boleh melupakan asalnya.”
“Bila kamu melihat pohon yang tinggi, kamu harus maju dan mengaguminya.”
“Ya, Guru. Ini berarti saya harus menghormati orang yang lebih tua.”
“Sekarang, lihat dan katakan apakah kamu dapat melihat lidahku?”
kata Chang Cong.

“Ya.”
“Apakah kamu melihat gigiku?”
“Tidak. Tak ada gigi yang tersisa.”
“Kamu tahu kenapa?”
tanya Chang Cong.
“Aku rasa...,”
kata Lao Tzu setelah berpikir sejenak,
“Lidah tetap ada karena lunak. Gigi rontok karena mereka keras. benar tidak?”
“Ya, anakku,”
Chang Cong berkata sambil mengangguk. “Itulah kebijaksanaan di dunia. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diajarkan kepadamu.”

Di kemudian hari Lao Tzu mengatakan: “Tidak ada sesuatu pun di dunia selunak air. Namun tidak ada yang mengunggulinya dalam mengalahkan yang keras. Yang lunak mengalahkan yang keras dan yang lembut mengalahkan yang kuat. Setiap orang tahu itu, tapi sedikit saja yang mempraktekannya.”




"Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi."
(Matius 5:5)



Kebijaksanaan China

Senin, 18 Juli 2011

Kisah 3 Batang Pohon


Tiga batang pohon tinggal di dalam hutan. Suatu hari, ketiganya saling bercerita tentang harapan dan impian mereka.

Pohon pertama memulai percakapannya, “Kelak aku ingin menjadi peti harta karun. Aku akan bermandikan emas, perak dan berbagai batu permata yang mahal harganya, dan semua orang akan mengagumi keindahannya”.

Kemudian pohon kedua berkata, “Suatu hari kelak aku akan menjadi sebuah kapal yang besar. Aku akan mengangkut raja-raja dan berlayar ke ujung dunia. Aku akan menjadi kapal yang kuat dan setiap orang akan merasa aman berada dekat denganku.”

Lalu pohon ketiga menyampaikan impiannya, “Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang tertinggi di hutan di puncak bukit. Orang-orang akan memandangku dan berpikir, betapa aku begitu dekat untuk menggapai surga dan Tuhan. Aku akan menjadi pohon terbesar sepanjang masa dan orang-orang akan mengingatku”.

Bertahun-tahun berlalu, sekelompok penebang pohon datang dan menebang ketiga pohon itu. Pohon pertama dibawa mereka ke tukang kayu. Ia sangat senang sebab ia tahu bahwa ia akan dibuat menjadi peti harta karun.
Tetapi…doanya tidak menjadi kenyataan, karena tukang kayu hanya membuatnya menjadi tempat menaruh makanan ternak dan ia hanya diletakkan di kandang dan setiap hari diisi dengan jerami.

Pohon kedua lalu dibawa ke galangan kapal. Ia berpikir bahwa doanya menjadi kenyataan.
Tetapi… ia dipotong-potong dan dibuat menjadi sebuah perahu nelayan yang sangat kecil. Impiannya menjadi kapal besar untuk mengangkut raja-raja pupus sudah.

Pohon ketiga dipotong menjadi potongan-potongan kayu besar, dan dibiarkan tinggal  dalam gudang yang gelap.
Tahun demi tahun berganti…dan ketiga pohon itu telah melupakan impian mereka.

Namun di suatu hari terjadilah sesuatu…

Sepasang suami istri yang kelelahan ditengah malam yang dingin tiba di kandang. Sang istri yang sedang mengandung itu lalu melahirkan dalam kandang tersebut dan meletakkan bayinya di kotak tempat makanan ternak yang dibuat dari pohon pertama. Dan kemudian orang-orang datang dan menyembah bayi itu.
Akhirnya pohon pertama sadar bahwa di dalamnya telah diletakkan Harta Terbesar Sepanjang Masa.


Bertahun-tahun kemudian…
Sekelompok laki-laki naik ke atas perahu nelayan yang dibuat dari pohon kedua.
Di tengah danau, badai besar datang dan pohon kedua berpikir, bahwa ia tidak cukup kuat untuk melindungi orang-orang di dalamnya.

Tetapi salah seorang laki-laki itu berdiri dan berkata kepada badai itu, “Tenanglah!!”
Dan badai itupun berhenti. Ketika itu ia baru menyadari bahwa perahunya telah membawa Raja Segala Raja.

Beberapa waktu berikutnya, seseorang datang dan mengambil pohon ketiga.
Ia dipikul sepanjang jalan sementara orang-orang mengejek lelaki yang memikulnya.

Pohon ketiga yang sudah menjadi kayu balok besar itu terus berada di atas punggung seorang lelaki yang penuh darah. Ketika sampai diatas sebuah bukit, ia dipakukan bersama dengan seorang laki-laki yang berlumuran darah itu, dan terdengarlah suara “Ya Bapa....Kedalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku..”

Pohon ketiga lalu menyadari bahwa ia demikian dekat dengan Tuhan,
karena YESUSlah yang disalibkan padanya…

Ketiga pohon tersebut mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi tidak dengan cara yang seperti mereka bayangkan.
Tuhan mengenal harapanmu, dan Dia mengetahui kerinduan hatimu, dan Dia tahu untuk memberikan yang terbaik bagimu.

Jadilah orang yang berguna tidak hanya untuk kepentingan dan kebesaran diri kita semata, tetapi lebih daripada itu jadilah orang yang berguna bagi Kerajaan Allah dan memuliakan nama-Nya.


Anonim